Buntut Rusuh Arema vs Persib, Satu Remaja SMK Tewas

Sepakbola seharusnya menjadi momen di mana semua orang bersuka cita. Namun sepakbola justru menggiring Dhimas Duha pada kematian. Remaja berusia 16 tahun yang masih duduk di bangku kelas I, SMK Negeri 1 Janti itu meninggal dunia usai menonton pertandingan Liga 1 Indonesia antara Arema Malang melawan Persib Bandung.

 

Laga yang dilangsungkan hari Minggu (15/4) malam di stadion Kanjuruhan, kabupaten Malang itu memang berujung pada kerusuhan. Kericuhan togel online terpercaya terjadi saat suporter yang mayoritas Aremania di tribun timur merangsek masuk dan terjadi baku hantam. Kepolisian pun memberikan tembakan gas air mata dan sekitar 214 suporter jadi korban yang membuat situasi panik berhamburan hingga ada yang terinjak-injak.

 

Dalam catatan resmi ada delapan korban yang harus dirawat intensif di sejumlah rumah sakit, tetapi nama Dhimas tidak ada. Dari keterangan kerabat korban, Dhimas diduga jadi salah satu korban kerusuhan karena mengaku sempat terinjak-injak dan mengeluh dadanya sakit hingga pusing. Menolak naik ke ambulans, Dhimas memilih pulang dengan sepeda motor. Barulah hari Senin (16/4) kondisi Dhimas memburuk sehingga dibawa ke rumah sakit dan dirujuk ke RSSA Malang hari Selasa (17/4) malam. Malang, Dhimas menghembuskan nafas terakhir hari Rabu (18/4) sore.

 

Panpel Tidak Beri Asuransi Untuk Tiket

 

Kematian Dhimas langsung ditanggapi oleh manajemen Arema yang menyampaikan belasungkawa. Sudarmadji selaku Media Officer Arema FC pun mengakui kalau kematian Dhimas akan jadi pelajaran berharga bagi panpel pertandingan Arema. Manajemen Arema pun sudah melakukan langkah tanggung jawab maksimal membantu penanganan medis Dhimas termasuk merujuk korban ke RSSA Malang.

 

“Kondisi Dhimas saat dirujuk sudah kritis. Tentunya kami sudah berupaya membantu penanganan almarhum tapi Tuhan berkehendak lain. Kami mendengar kabar Dhimas dari media sosial. Sekitar pukul sebelas siang saat sudah kritis, salah satu perwakilan keluarga mendatangi posko pengaduan dan meminta manajemen turun tangan,” papar Sudarmadji seperti dilansir Detik.

 

Mengenai penyebab kematian Dhimas, jajaran manajemen Arema rupanya belum mengetahui dan hanya mendapat informasi dari keluarga bahwa korban sesak nafas. “Kami menunggu secara resmi dari tim medis mengenai penyebab kematian Dhimas. Untuk korban lainnya masih di rumah sakit dan kami juga meminta adanya perawatan terbaik. Semua biaya ditanggung manajemen, dua di antaranya di RSSA.”

 

Manajemen Arema pun melakukan tanggung jawab penuh kendati ternyata tiket laga maut itu tidak berasuransi. Rudi Widodo selaku manajer Arema bahkan langsung mulai mengkaji adanya asuransi bagi penonton pertandingan. Apalagi setelah Persib, Arema dijadwalkan bentrok dengan sang musuh abadi, Persebaya Surabaya. Ke depannya, manajemen Arema bahkan berniat menggandeng mitra asuransi untuk penonton yang membeli tiket resmi.

 

Ricuh Karena Aremania Kecewa

 

Kekecewaan atas penampilan buruk Arema yang bahkan belum pernah menang sejak Liga 1 Indonesia 2018 memang jadi penyebab utama. Bermain di kandang, Arema bahkan harus imbang 2-2. Sejak diasuh oleh Joko Susilo, Arema memang kerap kali kecolongan gol dan malah berakhir imbang meskipun mencetak gol terlebih dulu. Cak No selaku salah satu dedengkot Aremania bahkan mendesak evaluasi total di tubuh Arema.

 

“Suporter jangan dijadikan kambing hitam. Kami prihatin dengan kejadian di Kanjuruhan. Selain itu pertandingan dengan tensi tinggi harusnya dipimpin wasit yang tegas supaya tak ada klub yang dirugikan. Keputusan wasit sangat mempengaruhi suporter. Gas air mata juga ditembakkan ke tribun, semua panik. Itu jelas salah prosedur,” tutup Cak No.