Investigasi Ungkap Pesawat MH17 Jatuh Dirudal Rusia

Masih ingat dengan jatuhnya pesawat MH17 milik maskapai Malaysia Airlines yang jatuh di Ukraina pada 17 Juli 2014? Pesawat jenis Boeing 777 itu jatuh dalam perjalanannya dari Amsterdam (Belanda) ke Kuala Lumpur (Malaysia). Seluruh penumpangnya sejumlah 298 orang tewas semua termasuk 38 orang warga negara Australia dan dianggap tragedi kemanusiaan.

 

Terungkap bahwa pesawat nahas itu melintas sekitar 50 kilometer dari perbatasan Ukraina-Rusia. Saat insiden terjadi, perang di Donbass memang tengah berkecamuk. Sekitar setahun sejak jatuh yakni pada Oktober 2015, Dewan Keselamatan Belanda mengungkapkan bahwa rudal Bulk telah menembak jatuh MH17, seperti dilansir Kompas.

 

Tim Investigasi Gabungan (JIT) yang dipimpin oleh Belanda menyimpulkan pada tahun 2016 bahwa rudal itu dibawa dari Ukraina ke Rusia. Rudal itu ditembakkan dari daerah yang dikuasai pemberontak pendukung Rusia dengan sekitar 100 orang teridentifikasi sebagai saksi atau tersangka, meskipun tak ada nama-nama yang dirilis ke publik.

 

Dan akhirnya pada 2018 ini, para penyelidik meyakini bahwa militer Rusia memegang peranan penting perihal menyediakan rudal mematikan itu. Tak main-main, JIT resmi menuding brigade rudal anti-pesawat 53 milik Federasi Rusia yang berpusat di Kursk sebagai biang keladi jatuhnya MH17. Atas temuan itu, Presiden Rusia Vladimir Putin sempat meminta komunitas judi bola internasional untuk menyertakan mereka dalam investigasi jatuhnya MH17, tetapi tak pernah digubris.

 

Pilot Ukraina Yang Dituduh Rusia Tewas Bunuh Diri

 

Dalam perkembangannya, Rusia sempat menuding kalau seharusnya Ukraina-lah yang bertanggung jawab atas jatuhnya MH17. Bahkan tudingan itu sampai membuat Kapten Vladyslav Voloshyn selaku pilot Angkatan Udara Ukraina, depresi berat. Kremlin saat itu menilai jika Voloshyn yang ditugaskan di pangkalan udara Mykolaiv, tak jauh dari kota Odessa di wilayah selatan Ukraina adalah biang tragedi yang menewaskan 298 orang penumpang.

 

Pilot berusia 29 tahun itu disebut sudah memiliki 33 misi temput dengan jet Su-25 dan bertugas melawan pemberontak pro-Rusia di kawasan timur Ukraina. Selama ini Voloshyn selalu menilai jika Rusia sudah melakukan kebohongan besar yang menuding dirinya melontarkan rudal Bulk milik Ukraina. Tak sanggup atas tuduhan itu, Voloshyn dilaporkan tewas bunuh diri di rumahnya di Mykolaiv, dekat Laut Hitam pada 18 Maret 2018 silam.

 

Lima Negara Menuntut, Rusia Bantah Jatuhkan MH17

 

Atas ungkapan hasil investigasi yang menyebutkan sistem pertahanan udaranya menghantam MH17 hingga jatuh, Rusia pun bereaksi dengan mengeluarkan bantahan. Menurut Kemenhan Rusia, tidak ada satu rudal pun dari Federasi Rusia yang melintasi perbatasan Rusia-Ukraina. Sergei Lavrov selaku Menlu Rusia malah menegaskan kalau tak ada bukti kuat atas tuduhan itu.

 

Sementara itu sebelumnya pada pertengahan Juli 2017, lima negara yakni Australia, Belgia, Malaysia, Ukraina dan Belanda sudah sepakat mengajukan tuntunan hukum demi keadilan bagi para penumpang dan awak pesawat yang tewas. Kelima negara itu sepakat agar para tersangka diadili di Belanda. Petro Poroshenko selaku Presiden Ukraina pun berjanji bahwa Kiev akan membantu Belanda dan menjamin hukum bakal ditegakkan seadil mungkin.

Atas masuknya Ukraina dalam anggota JIT, Putin pun tak dapat menutupi rasa herannya. Baginya, Ukraina telah melanggar hukum internasional. “Ukraina tak menutup wilayah udaranya saat konflik bersenjata berlangsung. Rusia harusnya diberi peran dalam investigasi. Namun hingga saat ini saya belum melihat pembicaraan bahwa kami diminta berpartisipasi.”

 

Seorang Pria Tabrakkan Mobil ke Restoran Ramai di Jerman

Dibandingkan di Indonesia, kehidupan mancanegara memang memiliki potensi tindakan penyerangan yang lebih berat. Salah satunya baru saja terjadi kota Muenster, Jerman pada Sabtu (7/4). Kejadiannya sendiri adalah saat seorang pria yang mengendarai van, nekat menabrakkan mobilnya ke restoran Grosser Kiepenkerl yang ramai pengunjung, seperti dilansir AFP.

 

Tak main-main, karena aksi penabrakan itu, sedikitnya 30 orang terluka dan empat orang tewas termasuk sang sopir. Dari keterangan kepolisian Muenster, pelaku memilih bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri. Saksi mata menjelaskan kalau kejadian itu terjadi saat mobil van melaju kencang menju Grosser Kiepenkerl. Sekedar informasi, restoran ini memang begitu populer di kalangan turis yang tengah berkunjung ke Muenster, salah satu kota tua di wilayah Jerman barat.

 

Serangan tabrak brutal ini sendiri seolah membuka memori tragedi penabrakan di Berlin, Jerman pada 19 Desember 2016. Saat itu pelakunya adalah Anis Amri, seorang pencari suaka asal Tunisia yang berhasil membajak sebuah truk dan membunuh sang supir. Amri dengan sangat berani memacu truk bursatogel itu dengan kecepatan penuh ke arah pasar yang ramai pengunjung sehingga membuat sekitar 12 orang tewas.

 

Pelaku Alami Sakit Jiwa

 

Dalam penyelidikan yang ada, kepolisian menegaskan jika aksi penabrakan ini tak ada hubungannya dengan teror ISIS. Herbert Reul selaku Menteri Dalam Negeri negara bagian Rhine-Westphalia menegaskan jika sang pelaku bukanlah imigran melainkan seorang individu tunggal sekaligus warga negara Jerman dengan nama Jens R yang ternyata mengalami masalah kejiwaan.

 

ZDF selaku lembaga siaran publik Jerman juga menyebutkan jika pelaku tak punya hubungan dengan gerakan sayap kanan. Dalam perkembangan penyelidikan, Spiegel Online menginformasikan jika Jens R tinggal di Muenster dan ditemukan senjata di flat yang dia huni. Sehari setelah kejadian itu yakni Minggu (8/4), Reul bersama Mendagri Horst Seehofer dan Armin Laschet selaku Perdana Menteri negara bagian Rhine-Westphalia melakukan kunjungan untuk memberikan penghormatan pada keluarga korban.

 

Hans-Joachim Kuhlisch selaku Kepala Polisi Muenster menjelaskan jika dia dan anak buahnya melakukan penyelidikan di empat apartemen Jens R. Terungkap jika pria berusia 48 tahun itu memiliki empat buah apartemen yakni dua di wilayah Jerman timur dan dua di Muenster. Senada dengan ucapan Reul, Kuhlisch juga memastikan kalau Jens R tidak memiliki motif politik atas aksinya karena hanya mempunyai permasalahan kejiwaan.Hanya saja para pejabat dan pihak berwenang belum membeberkan dengan jelas mengenai masalah kejiwaan yang dialami Jens R.

 

Maraton di Berlin Juga Diancam Teror

 

Sehari setelah aksi tabrakan brutal di Muenster, giliran warga Berlin yang mendadak terkejut. Karena pada hari Minggu (8/4) kemarin, kepolisian Jerman berhasil mengamankan empat orang pria di mana salah satunya berniat melakukan teror seranga pisau dalam acara semi maraton di Berlin. Berbeda dengan Jens R yang tak memiliki motif politik, empat pelaku yang diringkus kepolisian Berlin ternyata mempunyai kaitan dengan Amri.

 

Dari tangan para pelaku, kepolisian menyita dua buah pisau super tajam yang memang diasah untuk melakukan teror dalam kegiatan maraton. Menanggapi berbagai aksi serangan masal, Angela Merkel selaku Kanselir Jerman pun angkat bicara. Merkel tak menampik kalau dirinya begitu terguncang dengan kejadian di Muenster dan Berlin. Supaya mengurangi beban keluarga korban, Merkel berjanji untuk mendorong seluruh pihak agar segera mencari otak di balik serangan beruntun ini sekaligus membantu para korban.