Kunci Jawaban Bocor Lewat WhatsApp, USBN Bermasalah

Sejak tahun 2017, Kementrian Pendidikan Indonesia sudah melakukan perubahan standar kelulusan jenjang sekolah di Tanah Air dari Ujian Nasional (UN) menjadi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Berbeda dengan soal UN yang disiapkan Dinas Pendidikan Nasional, materi tes USBN diserahkan pada pemprov untuk jenjang SMA/SMK dan pemkot/pemkab untuk SMP.

 

Perubahan sistem inilah yang membuat USBN lebih rawan kebocoran jawaban dibandingkan UN. Dan itulah yang diduga terjadi di USBN 2018 tingkat SMA Jawa Barat. Masalah pada USBN yang digelar pada 19-27 Maret 2018 ini terungkap saat Iwan Hermawan selaku Ketua Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI)Bandung membereskan ruang kelas ujian USBN dan menemukan kertas yang diduga kunci jawaban. Saat dicocokkan, ternyata sesuai dengan kunci jawaban resmi materi soal Disdik Jabar, seperti dilansir Detik.

 

Tak butuh waktu lama, Polrestabes Bandung langsung melakukan penyelidikan yang diikuti oleh Disdik Jabar dengan membentuk tim khusus. Enggan berdiam diri, FAGI Bandung menemukan bukti bahwa kunci jawaban itu disebarkan lewat grup WhatsApp dan LINE. Bahkan Iwan mengaku sudah mengetahui pelaku yang kerap disapa ‘kakak’ dan disinyalir berjenis kelamin perempuan itu.

 

Soal USBN Juga Bocor di Tempat Bimbel

 

Sementara itu dalam perkembangannya, masalah USBN tidak hanya terjadi Bandung saja. Ombudsman Jakarta memberikan laporan togel sgp bahwa terjadi kebocoran soal USBN di sejumlah tempat bimbingan belajar (bimbel) di Jakarta dan Bekasi. Dominikus Dalu selaku Kepala Perwakilan Ombudsman Jakarta Raya berpendapat bahwa dugaan kebocoran soal USBN ini adalah upaya bimbel yang menyusun soal-soal serupa, seperti dilansir CNN Indonesia.

 

Bukan hanya di bimbel saja, Ombudsman pun menilai bahwa bukan tak mungkin kebocoran soal juga terjadi di sekolah karena berbagai faktor seperti status akreditasi sekolah. Dominikus berpendapat bahwa pihak sekolah bisa saja ingin akreditasi mereka meningkat lewat nilai para lulusan yang tinggi-tinggi dengan jalan kotor seperti membocorkan soal USBN.

 

Mengenai temuan Ombudsman itu, Bowo Irianto selaku Wakil Kepala Disdik DKI Jakarta berpendapat bahwa tak ada isu kebocoran soal USBN yang mencolok meskipun tak menampik ada kemungkinan kecil soal bocor di tingkat bimbel atau bahkan sekolah. Hanya saja jika memang pelaku yang membocorkan soal USBN itu adalah guru, maka pihak Disdik tak segan-segan akan memberikan sanksi tegas seperti pemecatan dari satuan dinas dan diberhentikan dari pekerjaan.

 

Kejar Standar Global, Peserta UN Dibuat Pusing

 

Sementara itu setelah USBN, para siswa tingkat akhir akan mengikuti UN yang dibagi dalam dua sistem yakni UNKP (UN Kertas Pensil) dan UNBK (UN Berbasis Komputer). Ada sekitar 8,1 juta peserta didik dari 96 ribu satuan pendidikan di Indonesia yang ikut UN di 2018 ini. SMK akan mendapat giliran UN pertama yakni 2-5 April lalu SMA/MA pada 9-12 April dan SMP pada 23-26 April. Hanya saja UN tingkat SMA justru diwarnai protes dan keluhan dari peserta.

 

Banyak yang menilai soal mapel Matematika cukup sulit dan membuat mereka pusing luar biasa. Keluhan yang disuarakan pelajar lewat media sosial itupun didengar Mendikbud Muhadjir Effendy. Menurut Muhadjir kesulitan muncul pada bagian soal penalaran yang memiliki porsi 10% dalam UN. Soal-soal penalaran itu memang disusun dengan standar intenasional PISA demi mengejar ketinggalan kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Di mana sudah saatnya para siswa Indonesia mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.